Senin, 22 Oktober 2012
Simpus Kedu V.7
Rabu, 23 Mei 2012
Aplikasi Microsoft Excel Untuk Loket Pendaftaran
Kepuasan pasien terhadap pelayanan di Loket Pendaftaran sangat berperan penting terhadap kepuasan pasein terhadap pelayanan secara keseluruhan. Demikian juga sebaliknya, ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan di Loket Pendaftaran akan sangat mempengaruhi kepuasan pasien terhadap pelayanan Puskesmas secara keseluruhan.
Keluhan yang dikemukakan oleh pasein terhadap pelayanan di Loket Pendaftaran antara lain :
1. Lambatnya pelayanan
2. Keramahan Petugas Pendaftaran yang kurang
Kedua keluhan tersebut muncul akibat sistem pelayanan di Loket Pendaftaran yang tidak efisien dan tidak efektif antara lain :
1. Kesulitan mencari Rekam Medis Pasien
2. Terlalu banyak administrasi pembukuan di Loket Pendaftaran
3. Keterbatasan tenaga
Kondisi inilah yang mendorong Manajemen Puskesmas Kedu untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas Loket Pendaftaran dengan menggunakan alat bantu komputer dan aplikasi Microsoft Excel sebagai berikut:
Aplikasi "Register Loket Pendaftaran" ini menggunakan UserForm Microsoft Excel untuk memudahkan petugas memasukkan data ke dalam DataBase Puskesmas.
Keuntungan penggunaan aplikasi ini adalah waktu pendaftaran bisa lebih cepat karena administrasi Loket Pendaftaran cukup dilakukan di Komputer dan aplikasi ini bisa digabungkan dengan aplikasi Simpus Puskesmas sehingga entri data lebih ringan dan mudah.
Kelemahannya adalah faktor manusia dan faktor tehnisnya. Listrik yang mati, komputer yang rusak atau serangan virus komputer bisa menjadi ancaman yang serius.
Aplikasi ini akan terus dikembangkan agar semakin lengkap tetapi semakin mudah digunakan.
Senin, 27 Februari 2012
Pasien Yang Butuh Puskesmas Atau Puskesmas Yang Butuh Pasien ... ?
- Petugas kurang ramah, kadang membentak dan menyalahkan pasien karena kekurangtahuan pasien terhadap prosedur yang diberlakukan di Puskesmas
- Pelayanan yang lama
- Perlakuan yang berbeda terhadap pasien Jamkesmas / Gratis
- Puskesmas hanya bisa menangani kasus yang ringan saja
- Obat Puskesmas kurang manjur
Jumat, 17 Februari 2012
Influenza di Puskesmas Kedu

Ada tiga tipe virus influenza: A, B dan C. Virus influenza A dan B menyebabkan epidemi musiman. Virus influenza tipe C tidak menyebabkan epidemi dan memberikan gejala yang lebih ringan.
Virus influenza A dibagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan dua protein pada permukaan virus:hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). Ada 16 subtipe hemaglutinin dan 9 subtipe neuraminidase yang berbeda. Setiap subtipe virus influenza A dapat dipecah lagi menjadistrain yang berbeda. Subtipe virus influenza A yang ditemukan pada manusia adalah H1N1, H3N2 dan H5N1 dengan aneka strain yang berbeda. Virus influenza B tidak dibagi menjadi subtipe tetapi juga memiliki beberapa strain yang berbeda.
Anda tidak mendapatkan influenza dari strain yang sama dua kali karena 2-4 minggu setelah terkena penyakit, Anda mengembangkan antibodi terhadapnya. Namun, virus flu terus berkembang menjadi strain-strain baru. Strain ini terjadi melalui mutasi virus dari binatang yang bercampur dengan virus flu dari manusia. Dalam kasus tersebut tidak ada kekebalan (resistensi) kita terhadap virus flu baru, sehingga epidemi besar dapat terjadi.
Sejak akhir 1990-an, misalnya, muncul sebuah strain baru dari influenza A (flu burung, H5N1) yang menyebabkan epidemi besar pada ayam dan bebek, terutama di Cina, Thailand, Vietnam dan Indonesia, yang menginfeksi sejumlah kecil manusia dan beberapa di antaranya meninggal dunia. Virus flu ini telah menyebar melalui burung migran ke ayam dan itik di beberapa negara lain, termasuk Eropa dan Afrika. (majalahkesehatan)
Data yang dikumpulkan oleh Simpus Kedu V.2.2 mulai 1 Januari sampai dengan 17 Pebruari 2012, penyakit influenza menempati peringkat pertama sebagai jumlah penderita terbanyak yang ditangani. Tercatat 695 penderita influenza dari total kunjungan sebanyak 3.279 kunjungan atau 21,2 %. Hal yang sama juga terjadi pada tahun sebelumnya, Influenza juga menduduki peringkat pertama sebagai jumlah pendertia terbanyak dengan 3.637 penderita dari total 18.486 kunjungan atau 19,7 %.

Senin, 13 Februari 2012
Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) KIA - Imunisasi Puskesmas Kedu Tahun 2012

PWS KIA – Imunisasi adalah salah satu sistem surveilans kesehatan masyarakat yang berfungsi untuk memantau kegiatan program KIA dan Imunisasi secara terus menerus yang meliputi pengumpulan data, pengolahan data, analisa data, interpretasi data dan penyebarluasan informasi hasil kegiatan melalui pembuatan dan pemasangan grafik PWS KIA – Imunisasi.
Pelaksanaan kegiatan PWS KIA – Imunisasi di Puskesmas Kedu telah mengalami beberapa perubahan yang dimaksudkan untuk semakin meningkatkan kualitas PWS sebagai salah satu alat surveilans.
- Pemeriksaan Ibu Hamil Pertama ( K 1 )
- Pemeriksaan Ibu Hamil Ke Empat ( K 4 )
- Deteksi Risiko Tinggi Ibu Hamil Oleh Tenaga Kesehatan
- Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan
- Persalinan Di Sarana Kesehatan
- Pemeriksaan Ibu Nifas
PWS Imunisasi meliputi :
- Imunisasi Hepatitis B 0
- Imunisasi BCG
- Imunisasi Polio 1
- Imunisasi Polio 4
- Imunisasi DPT – Hepatitis B 1
- Imunisasi DPT – Hepatitis B 3
- Imunisasi Campak
- Drop Out Imunisasi BCG – DPTHB 1
- Drop Out Imunisasi BCG – Campak
Berbeda dengan grafik PWS pada umumnya, PWS KIA – Imunisasi yang dikembangkan di Puskesmas Kedu memiliki 2 grafik yang berbeda dalam satu tampilan. Grafik pertama berfungsi untuk menampilkan cakupan hasil kegiatan terhadap estimasi sasaran yang ditetapkan pada awal tahun, sedangkan grafik kedua menampilkan cakupan hasil kegiatan terhadap sasaran sebenarnya pada bulan bersangkutan.
1. Estimasi sasaran sering berbeda cukup signifikan dengan sasaran sebenarnya, apalagi bila menyangkut wilayah yang kecil untuk tingkat Desa dan Kecamatan
2. Penanggung jawab wilayah sering terpaku pada cakupan hasil kegiatan yang berdasarkan estimasi, bukan berdasarkan sasaran sebenarnya sehingga dikhawatirkan banyak sasaran yang tidak terlayani / terpantau karena merasa target sudah terpenuhi
3. Target yang tercapai berdasarkan PWS ternyata sering kali tidak menggambarkan hasil kegiatan yang sebenarnya, hasil yang telah mencapai target bukan jaminan bahwa semua sasaran sudah terlayani dan hasil yang tidak melampaui target tidak selalu karena kurangnya pelayanan, bisa saja karena kurangnya sasaran (jumlah sasaran lebih rendah dari estimasi yang sudah ditetapkan.
Untuk mengurangi kelemahan itu, maka grafik kedua dibuat untuk menampilkan cakupan hasil kegiatan bardasarkan sasaran sebenarnya, sehingga grafik yang ditampilkan diharapkan selalu 100 % yang menunjukkan bahwa semua sasaran pada bulan bersangkutan telah terlayani semua. Meskipun demikian bukannya tanpa kelemahan. Mendapatkan data sasaran yang sebenarnya adalah permasalahan sendiri.
Diperlukan 3 buah data sasaran sebenarnya untuk mebuat grafik kedua dalam PWS ini yaitu jumlah ibu hamil, jumlah ibu bersalin dan jumlah bayi. Jumlah ibu hamil yang dimaksud adalah jumlah ibu hamil baru yang ditemukan pada bulan bersangkutan. Jumlah ibu bersalin adalah jumlah ibu melahirkan pada bulan bersangkutan, sedang jumlah bayi adalah jumlah bayi baru lahir pada bulan bersangkutan.
Sabtu, 15 Oktober 2011
Persiapan Puskesmas Kedu Dalam Rangka Kegiatan Imunisasi Tambahan Polio dan Reduksi Campak Tahun 2011

Imunisasi Tambahan Polio dan Campak Digelar di 17 Provinsi
Kementerian Kesehatan (Kemkes) akan menggelar imunisasi tambahan untuk polio dan campak di 17 provinsi pada 18 Oktober hingga 18 November 2011 mendatang. Semua anak usia 9-59 bulan akan mendapatkan imunisasi campak dan anak usia 0-59 bulan untuk imunisasi polio, tanpa melihat status imunisasi sebelumnya.
Direktur Surveilens, Imunisasi, Karantina dan Kesehatan Matra Kemkes dr Andi Muhadir mengatakan, pelaksanaan imunisasi tambahan ini dimaksudkan untuk meningkatkan perlindungan terhadap seluruh bayi/anak dari penyakit campak serta polio.
Pelaksanaan kegiatan ini akan dilakukan serentak dengan target minimal 95% bayi/anak mendapat imunisasi secara maksimal. Jumlah sasaran untuk polio (0-59 bulan) adalah sebanyak 15,2 juta anak, dan campak sekitar 13,1 juta anak.
Ketujuh belas provinsi tersebut, adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Papua.
Kegiatan ini merupakan tahap ketiga dari rangkaian kampanye imunisasi campak, yang dilaksanakan secara bertahap sejak Juni 2009 di Aceh, Sumatera Utara dan Maluku Utara. Kemudian tahap kedua pada Agustus 2010 dilaksanakan di Papua Barat, Sumatera Barat, Bengkulu, Bangka Belitung, NTT, Riau, Banten, Jambi dan Sumatera Selatan.
Imunisasi akan diberikan di pos-pos pelayanan imunisasi yang ditentukan dan diberi tanda khusus yakni puskesmas, posyandu atau sarana kesehatan lainnya, serta dilakukan petugas terlatih.
"Kegiatan imunisasi ini relatif efektif pada dua minggu pertama, kemudian dua minggu terakhir kita melakukan sweeping. Jadi kalau masih ada bayi dan balita yang belum diberikan imunisasi maka kader bersama petugas kesehatan akan lakukan sweeping agar diberikan imunisasi," katanya dalam acara temu media di Jakarta, Jumat (23/9).
Ia menambahkan, kegiatan yang didanai dari berbagai sumber yakni APBN, APBD dan bantuan luar negeri ini tidak sebesar Pekan Imunisasi Nasional (PIN), namun diharapkan sosialisasinya harus segencar PIN. Hingga saat ini sejumlah daerah sudah menyosialisasikan kegiatan ini kepada masyarakat mengenai kampanye ini.
Sementara itu Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Soedjatmiko mengatakan, campak adalah penyakit yang potensial untuk menimbulkan kejadian luar biasa. Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi campak.
Sebelum imunisasi campak dipergunakan secara luas di dunia hampir setiap anak dapat terinfeksi campak. Kasus campak dengan komplikasi, misalnya gizi buruk atau pnemonia akan berisiko pada kematian.
Secara global tahun 2008 tercatat 164.000 kematian campak di dunia, dengan 450 kematian setiap hari atau 18 kematian setiap jam. Diketahui tahun 2002 sebanyak 202.000 kematian berasal dari negara ASEAN, dan 15% dari Indonesia.
Diperkirakan 30.000 anak Indonesia meninggal tiap tahunnya disebabkan komplikasi campak. Dengan kata lain terjadi 1 anak meninggal tiap 20 menit dan setiap tahunnya lebih dari 1 juta anak Indonesia belum terimunisasi campak.
Persiapan Puskesmas Kedu
Sosialisasi kegiatan tersebut di tingkat Kabupaten dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung pada hari Sabtu,8 Oktober 2011. Sedangkan sosialisasi di tingkat Kecamatan Kedu baru dilaksanakan pada hari ini, Sabtu, 15 Oktober 2011.
Bertempat di Aula Puskesmas Kedu, Sosialisasi kegiatan imunisasi tambahan polio dan reduksi campak dihadiri Camat Kedu, PKK Desa dan Kader Kesehatan Desa. Semua pihak sepakat untuk mensukseskan kegiatan tersebut dengan target minimal yang akan dicapai sebesar 95 %.
Senin, 20 Juni 2011
Pelayanan Laboratorium Puskesmas Kedu
Pemanfaatan Simpus Kedu V.1.2 telah dikembangkan, selain untuk rekapitulasi dan analisa data Pasien Rawat Jalan, juga digunakan untuk rekapitulasi dan analisa data pelayanan Laboratorium. 
Berdasarkan data yang ada, sampai dengan tulisan ini dibuat (20 Juni 2011) tercatat 880 kunjungan Laboratorium terdiri dari 707 kunjungan (80,3 %) Perempuan dan 173 kunjungan (19,7 %) Laki-Laki. Tingginya kunjungan Perempuan salah satunya disebabkan karena adanya jenis pemeriksaan yang hanya khusus untuk Perempuan yaitu Pemeriksaan Kehamilan yang mencapai 268 Pemeriksaan. Selain itu juga sebanding dengan proporsi kujungan Puskesmas yang didominasi oleh Perempuan (62,8 %).
Dari 880 kunjungan Laboratorium, Puskesmas Kedu melayani 1.359 pemeriksaan Laboratorium, dengan jenis pemeriksaan terbanyak adalah Test Kehamilan, diikuti pemeriksaan Gula Darah, Cholesterol, Asam Urat dan Golonga
n Darah.
Peralatan yang belum memadai, tidak adanya kalibrasi alat Laboratorium, keterbatasan reagensia dan kurangnya pembinaan Petugas laboratorium menjadi kendala dalam pelayanan Laboratorium Puskesmas Kedu.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Laboratorium Puskesmas Kedu berusaha dengan sekuat tenaga memanfaatkan segala fasilitas, saran dan prasarana yang ada agar pelayanan kepada masyarakat dapat dilaksanakan dengan seoptimal mungkin.
Kamis, 16 Juni 2011
Pneumonia di Puskesmas Kedu

Pnemonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pnemonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak.
Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali per menit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pnemonia.
Pneumonia Berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai) kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing) pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga Pnemonia sangat berat, dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak dibawah 2 bulan, pnemonia berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.
Pneumonia di Puskesmas Kedu :
Jumlah Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kedu pada tahun 2011 sebanyak 55.796 jiwa dan perkiraan jumlah Balita sebanyak 5.580 Balita dengan estimasi jumlah penderita Pneumonia sebanyak 558 Balita.
Menurut data yang diolah Software Simpus Kedu V.1.2 dari bulan Januari – 16 Juni 2011 telah ditemukan penderita Pneumonia pada Balita sebanyak 5 Balita (0,01%), tidak ditemukan Balita dengan Pneumonia berat atau sangat berat dan jumlah Balita dengan batuk bukan pneumonia sebanyak 725 Balita. Adapun pola penyakitnya adalah sebagai berikut :
| No. | Jenis Penyakit | Jumlah |
| 1 | Influenza | 571 |
| 2 | Faringitis Akut | 186 |
| 3 | Diare Non Spesifik | 152 |
| 4 | Dermatitis Atopik | 96 |
| 5 | Observasi Febris | 80 |
| 6 | Pioderma | 49 |
| 7 | Konjungtivitis Bakterial | 29 |
| 8 | Bronkhitis Akut | 28 |
| 9 | Stomatitis | 27 |
| 10 | Otitis Media Akut ( OMA ) | 15 |
Data tersebut diperolah dari Balita yang berobat ke Puskesmas Kedu beserta jaringannya yaitu Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, Pos Kesehatan Desa / PKD / Polindes dan Posyandu, tidak termasuk Balita yang berobat ke Dokter Praktek Swasta dan Rumah Sakit.
Rendahnya cakupan penemuan penderita Pneumonia di Puskesmas Kedu pada semester pertama (Januari-Juni) Tahun 2011 sebesar 0,01 % dari target semester pertama sebesar 5 %, perlu di atasi dengan langkah – langkah sebagai berikut :
1. Penyegaran Program Pemberantasan Penyakit Pneumonia bagi Petugas Kesehatan
2. Penyegaran Program Pemberantasan Penyakit Pneumonia bagi Kader Kesehatan
3. Peningkatan kualitas system pencatatan dan pelaporan Penyakit Pneumonia
Dengan kegiatan tersebut diharapkan semua penderita Pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Kedu dapat ditemukan secara dini dan cepat diatasi, sehingga angka kematian Balita akibat Penyakit Pneumonia dapat diturunkan.





